Rabu, 05 Juni 2013

Langitku dan Langitmu Sama....

Hidup ini gak melulu tentang cerita cinta antara kamu dan dia, tapi juga antara kamu dengan lingkunganmu. Jangan kamu lupakan kodratmu sebagai makhluk sosial. Jangan kamu menutup mata dari segala kejadian sosial yang terjadi di lingkunganmu. Tak ada salahnya mencoba untuk peka.

Kita memang sama-sama hidup dibawah langit biru, sama-sama berpijak diatas bumi, sama-sama menghirup oksigen dari atmosfer bumi. Tapi dibalik itu semua terselip perbedaan. Hidupku takkan sama dengan hidupmu, hidupnya dia, ataupun hidup mereka. Karena Tuhan telah menulis kisah hidup tersendiri bagi umatnya. Tuhanku mungkin tak sama dengan Tuhanmu, tapi kita sama-sama berdoa dan meminta padaNya meski dengan cara yang berbeda.

Kisah hidupku mungkin tak sama dengan dia. Seorang pria yang sering ku lihat setiap pagi, dengan seragam kerja yang sudah lusuh, membawa tas karung dipundaknya, dan topi di kepalanya. Apa kamu tau dia siapa ? Dia adalah seorang pemulung. Apa yang terbersit dalam pikiranmu soal pemulung ? Dia memang tak punya seragam khusus layaknya pejabat yang bekerja dikantoran, dia hanya memakai baju berlengan panjang dan celana panjang dengan sobekan di bagian ini-itu. Bajunya tak selicin baju para pekerja kantoran yang selalu disetrika setiap pagi dengan ditambah semprotan parfum, dia hanya mengenakan baju lusuh dengan parfum khas bau badannya sendiri. Kantong kerjanya, bukanlah berisi laptop dan berbagai file-file penting, tapi berisi sampah-sampah plastik yang hendak ditambah dengan plastik baru dan akan dijual ketika sudah banyak nanti. Dia bahkan tak memakai sepatu hitam seperti lelaki perlente, dia hanya mengenakan sandal dengan warna yang berbeda dan ukuran yang tak sama. Kantornya bukan di sebuah gedung bertingkat, tapi tong tong sampah yang ia sambangi setiap jalan yang ditempuh. Tapi tujuan utamanya sama dengan para pekerja lainnya, yakni mencari uang halal untuk menafkahi anak istrinya.

Baginya sampah yang kalian buang setiap hari disembarang tempat adalah kepingan uang yang harus ia pungut setiap hari. Tong sampah tempat pembuangan sampah terakhir, baginya adalah kotak harta karun berisi emas berlian yang harus ia keruk. Dia memang pemulung, tapi bagiku dia adalah pahlawan lingkungan. Bila ada pangkat seperti para jenderal, ingin aku sendiri yang memasangkan pelakat itu. Kalau bukan dia yang membersihkan lingkunganku, siapa lagi ? kamu atau mereka pasti takkan sanggup mengais sampah itu setiap hari dengan bau semerbak khas sampah yang menyengat.

Dia mungkin sudah terbiasa dengan bau sampah, bahkan ia tak perlu menutup hidungnya ketika mengais sampah. Dia mungkin sudah terbiasa berada dibawah panas terik matahari sehingga tak perlu menggunakan sunblock. Dia mungkin terbiasa berjalan berkilo meter, sehingga tubuhnya terlihat kekar. Dan dia mungkin sudah terbiasa dengan cacian dan makian dari manusia angkuh yang memandang dia sebelah mata.

Dia terlihat tegar mengahadapi dunia yang kejam ini. Karena dalam dirinya ada satu keyakinan bahwa Tuhan takkan membiarkan hambanya sengsara, pasti ada jalan untuk mengubah hidupnya lebih baik lagi. Dia bukan hamba Tuhan yang selalu mengeluh, tapi dia adalah Pria perkasa.

Jangan jadikan semua itu adalah pembeda antara kita. Langitku dan langitmu......Sama. Kita semua terlihat sama dimata Tuhan. Untuk apa kita bersikap angkuh, kalau itu semua ini milik Tuhan. Kalau Tuhan mau, Dia bisa saja merubah hidupmu dengan hidup lelaki itu dengan sekali jentikan jari.

Pelajaran moral no.3 :  Syukuri saja atas anugrah yang telah Tuhan berikan. Hidup ini bukan untuk disesali tapi untuk dinikmati. Kamu beruntung terlahir di dunia dengan nikmat yang besar, diluar sana masih banyak orang yang kurang beruntung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar