Sabtu, 17 Agustus 2013

Bangku Cadangan--

Aku tidak melupakan kamu, tapi belajar untuk tak mengingatmu lagi dan lagi. Karena sampai kapanpun aku takkan pernah lupa tentang "kita" kecuali kamu melumpuhkan otakku. Memang butuh waktu untuk beradaptasi dengan dunia baru, dunia dimana tak ada lagi tentang "kita". Tapi semuanya telah berhasil aku lewati, mungkin aku lulus dengan nilai memuaskan -hahaa-

Aku telah berhasil melewati masa-masa suram itu. Berjalan setapak demi setapak demi satu tujuan yakni terlepas dari belenggu cinta yang dulu. Aku senang telah mengenalmu, tapi maaf aku harus membuang cinta ini. Aku tak pernah bermaksud memusuhimu, tapi aku hanya menghindar dari tatapan matamu yang mampu menghipnotisku.

Lalu kenapa disaat aku merasa sudah terbebas dari cinta itu, kamu harus datang kembali. Ya sederhana memang, kamu hanya menanyakan kabarku. Untuk apa kamu menanyakan kabarku? Yang jelas cukup menyakitkan ketika perpisahan itu, dan sekarang hidup jauh darimu aku baik-baik saja :) Pembicaraan kita semakin jauh-semakin tak karuan-membicarakan yang tak perlu dibicarakan, menanyakan yang tak perlu dipertanyakan, menjawab yang tak ada jawabannyaa.

Aku terkesan seperti seorang pemain sepak bola, yang sekedar duduk dibangku cadangan. Aku hanya akan dipanggil ketika dibutuhkan. Mengganti pemain lama dan masuk ke arena permainan.

Aku memang duduk dibangku cadangan! hanya menjadi primadona disaat kamu butuh teman bicara, lalu dicampakkan begitu saja ketika kamu merasa sudah cukup untuk bermain-main. Terimakasih! Aku sudah sadar di awal permainan ini, aku berusaha mengambil alih permanainan dan mengakhiri permainan ini. Silahkan cari pemain lain untuk bergabung dalam permainanmu itu :))

Perempuan hanya dituntut untuk lebih peka, agar tak merasa kalau dirinya sedang diberi harapan palsu. Sebenarnya tak ada laki-laki PHP jika kita tak terlau banyak berkhayal dan menaruh banyak harapan muluk.