Hari ini matahari bersinar cukup terik. Membuat para
siswa X.9 berkeringat. Ditambah lagi dengan materi Matematika di jam pelajaran
terakhir, cukup membuat otak terasa menguap oleh teriknya matahari. Materi kali
ini seolah tak menarik, bahkan hampir seisi kelas terkantuk-kantuk dibuatnya.
“Kenapa bel pulang sekolah terasa lama?” bisik Dita
kepada teman sebangkunya
“ Makin ditunggu, bakalan makin kerasa lamanya. Udah deh nikmatin aja”, jawab Aike santai.
“Aihhhhh..... dinikmatin? kamu kira ini makanan siang apa?” Dita mendesah.
"Sssttt, diem deh Di. Jadi gak konsen nih denger keluhan kamu."
"Iya deh iya, nikmatin ya pelajaran favoritnya" Ledek Dita, Aike hanya menimpali dengan senyuman.
Kali ini Dita begitu tak selera
menhadapi ‘makan siang’nya, sedari tadi ia hanya mencoret-coret halaman
buku dan sesekali menengok jendela, berharap ada hal yang menarik diluar sana.
Mata pelajaran terakhir kadang terasa membosankan.
Dengan sisa-sisa tenaga yang tersedia, dan keinginan untuk segera pulang semakin membuat pikiran tak konsentrasi lagi. Apalagi sekarang kelas ini
harus menghadapi Matematika, pelajaran yang mengharuskan para siswanya harus
tetap berkonsentrasi dan membuka buku indahnya yang dipenuhi dengan angka-angka
yang seolah menari-nari didalamnya.
Dita terlihat tak bersemangat kali ini. Pandangannya memang seolah memerhatikan sang guru, tapi tidak dengan pikirannya. Otaknya tak bekerja untuk pelajaran, tapi malah memerintahkan seluruh anggota tubuh untuk tidur. Alhasil, mata Dita seolah ingin terpejam. Sangat terlihat jelas usaha Dita untuk membuat matanya agar tetap melek. Tapi semakin berusaha, kedua bola matanya justru semakin ingin terpejam.
Ditengah usahanya melawan rasa kantuk, ada objek menarik diluar jendela sana. Entah kapan datangnya lelaki berhidung mancung itu, tiba-tiba saja ia sudah berdiri dibalik jendela kelas. Saking mengantuknya, Dita tak menyadari bahwa tingkah lakunya sedang diperhatikan oleh seseorang dibalik jendela. Arka- si pemilik hidung mancung ini sedang berusaha mencari perhatian Dita. Ia ingin memberi semangat kepada Dita. Namun tetap saja Dita tak menyadarinya.
Sehingga tak sengaja Arka memukul jendela. Suara jendela itu cukup membuat Dita tersadar dari kantuknya, dan segera menengok ke arah luar. Wajahnya langsung sumringah ketika melihat kehadiran Arka.
Dita dan Arka kini terlibat perbincangan bahasa isyarat,
"Kamu ngapain di situ?" tanya Dita pelan.
"Gakpapa, ngantuk ya? Semangat Di!" jawab Arka, sambil mengangkat kepalan tanggannya pertanda memberi semangat Dita.
Senyum Dita merekah, ia senang sekali mendapat semangat dari pacarnya itu.
"Pulang sekolah bareng ya?" Tawar Arka dengan bahasa isyaratnya, ia tak mau kehadirannya terlihat oleh guru kelas Dita.
"Sip" jawab Dita sembari mengacungkan jempolnya. Ia merasa senang sekali, seolah mendapatkan makanan siangnya, kini ia menjadi bersemangat belajar matematika. Senyumnya terus merekah, membuat pipi chubbynya itu terlihat memerah.
Masih penasaran dengan ceritanya? Tunggu kelanjutanya!
Silahkan tinggalkan reaksimu dibawah ini! Terima kasih :)