Jumat, 14 Februari 2014

Makan Siang dengan Matematika



Hari ini matahari bersinar cukup terik. Membuat para siswa X.9 berkeringat. Ditambah lagi dengan materi Matematika di jam pelajaran terakhir, cukup membuat otak terasa menguap oleh teriknya matahari. Materi kali ini seolah tak menarik, bahkan hampir seisi kelas terkantuk-kantuk dibuatnya.

“Kenapa bel pulang sekolah terasa lama?” bisik Dita kepada teman sebangkunya

“ Makin ditunggu, bakalan makin kerasa lamanya. Udah deh nikmatin aja”, jawab Aike santai.

“Aihhhhh..... dinikmatin? kamu kira ini makanan siang apa?” Dita mendesah.

"Sssttt, diem deh Di. Jadi gak konsen nih denger keluhan kamu."

"Iya deh iya, nikmatin ya pelajaran favoritnya" Ledek Dita, Aike hanya menimpali dengan senyuman.
 Kali ini Dita begitu tak selera menhadapi ‘makan siang’nya, sedari tadi ia hanya mencoret-coret halaman buku dan sesekali menengok jendela, berharap ada hal yang menarik diluar sana.

Mata pelajaran terakhir kadang terasa membosankan. Dengan sisa-sisa tenaga yang tersedia, dan keinginan untuk segera pulang semakin membuat pikiran tak konsentrasi lagi. Apalagi sekarang kelas ini harus menghadapi Matematika, pelajaran yang mengharuskan para siswanya harus tetap berkonsentrasi dan membuka buku indahnya yang dipenuhi dengan angka-angka yang seolah menari-nari didalamnya.
 
Dita terlihat tak bersemangat kali ini. Pandangannya memang seolah memerhatikan sang guru, tapi tidak dengan pikirannya. Otaknya tak bekerja untuk pelajaran, tapi malah memerintahkan seluruh anggota tubuh untuk tidur. Alhasil, mata Dita seolah ingin terpejam. Sangat terlihat jelas usaha Dita untuk membuat matanya agar tetap melek. Tapi semakin berusaha, kedua bola matanya justru semakin ingin terpejam.

Ditengah usahanya melawan rasa kantuk, ada objek menarik diluar jendela sana. Entah kapan datangnya lelaki berhidung mancung itu, tiba-tiba saja ia sudah berdiri dibalik jendela kelas. Saking mengantuknya, Dita tak menyadari bahwa tingkah lakunya sedang diperhatikan oleh seseorang dibalik jendela. Arka- si pemilik hidung mancung ini sedang berusaha mencari perhatian Dita. Ia ingin memberi semangat kepada Dita. Namun tetap saja Dita tak menyadarinya.

Sehingga tak sengaja Arka memukul jendela. Suara jendela itu cukup membuat Dita tersadar dari kantuknya, dan segera menengok ke arah luar. Wajahnya langsung sumringah ketika melihat kehadiran Arka.

Dita dan Arka kini terlibat perbincangan bahasa isyarat,

"Kamu ngapain di situ?" tanya Dita pelan.

"Gakpapa, ngantuk ya? Semangat Di!" jawab Arka, sambil mengangkat kepalan tanggannya pertanda memberi semangat Dita.

Senyum Dita merekah, ia senang sekali mendapat semangat dari pacarnya itu.

"Pulang sekolah bareng ya?" Tawar Arka dengan bahasa isyaratnya, ia tak mau kehadirannya terlihat oleh guru kelas Dita.

"Sip" jawab Dita sembari mengacungkan jempolnya. Ia merasa senang sekali, seolah mendapatkan makanan siangnya, kini ia menjadi bersemangat belajar matematika. Senyumnya terus merekah, membuat pipi chubbynya itu terlihat memerah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Masih penasaran dengan ceritanya? Tunggu kelanjutanya!
Silahkan tinggalkan reaksimu dibawah ini! Terima kasih :)

Sabtu, 08 Februari 2014

Dua Tahun Yang Akan Datang

Kita gak akan pernah tahu kehidupan kita esok hari, bahkan untuk satu jam kedepanpun kita belum tentu tahu. Karena Tuhan-lah yang memiliki kendali akan hidup kita. Bukan berarti kamu cukup berdiam diri menunggu takdir Tuhan. Kita juga bisa merubah jalan hidup kita. Termasuk perjalanan mencari cinta.

Kisah ini berawal di sebuah Sekolah Menengah Atas di sudut kota.

Seorang gadis cantik duduk sendiri di depan kelasnya. Ia menekuk wajahnya, sembari jemarinya terus memainkan layar smartphonenya.

"Vi, lagi ngapain si? Itu muka ditekuk mulu" Tanya Dita datang mengampiri Vian.

"Apa sih di? dateng-dateng ngagetin"jawab Vian singkat

"heuh? Ngagetin dari manaanya? Itu nanya pake suara halus gitu perasaan, kamunya aja yang gak fokus. Galau ya? Jomblo galau cieee"

"Suara halus? Iya deh terserah. Di, bisa kan gak usah ngomong soal jomblo? Ngedadak telinga jadi lebih sensitif denger soal jomblo"

"Idih, iya deh iyaa. Emang kenapa si Vi bisa bete gitu?"

"Kepo" Jawab Vian ketus, kali ini dia benar-bener tak mau banyak bicara. Emosinya sedang memuncak, entah karena apa-- ia jadi lebih senang berdiam diri.

"Ya udah kalau gak mau cerita! Ditinggal ya ke kantin, jangan nyanriin ya Vi"

"Iya-iya sana"

Ditapun melenggang pergi ke kantin sekolah, meninggalkan Vian sendiri. Ia tahu persis apa yang sedang dirasakan Vian, itulah sebabnya Dita tak berani banyak tanya-- karena Vian pasti akan bercerita.

"Nih, Vi aku bawa snack mau gak?" tawar Dita pada Vian. Sedari tadi Vian tetap duduk sendiri, dan tak menghiraukan jam istirahat yang akan berakhir.

"Engga ah, gak laper." Jawab Vian ketus, ia lebih tertarik memainkan smartphonennya ketimbang harus makan.

"Kayaknya tahu deh kenapa kamu diem gini" tebak Dita dengan nada bercanda.

"Jangan mulai so tahu deh Di"

"Emang tahu, Kamu pasti lagi keingetan si itu ya?"

"Ahhhh, emang keliatan gitu ya? ini padahal udah usaha buat nyembunyiin" Keluh Vian

"Iyalah, diem gitu mulu, Kapan mau move on kalau cuma bisa diem aja-sambil terus ngestalk twitter dia?"

"Gak tahu deh Di, susah banget deh perasaan. Bahkan aku gak yakin dua tahun yang akan datang pas lulus dari SMA ini, aku udah move on atau belum."

"Dua tahun yang akan datang kamu bakalan tetep gini aja, kalau emang gak ada usahanya. Ngapain kek, buat perubahan, ya kali aja ada hal baru."

"Iya ya, Aku harus mulai terbuka dengan hal-hal baru. Kan bisa aja dua tahun yang akan datang, pas lagi acara perpisahan, aku udah ngegandeng cowok hehee" khayal Vian melayang, ia tersenyum-senyum memnbayangkan hal indah itu.

"Mulai deh ngayal, gitu dong dari tadi tuh senyum, cepet deh masuk kelas udah bel"

Vian dan Ditapun berjalan beriringan masuk ke kelas. Kini Vian telah menemukan semangatnya yang baru, semangat untuk memperbaiki diri demi dua tahun yang akan datang.

Jumat, 29 November 2013

Cukup Dengan Satu Tindakan

Terkadang kicauan burung itu terdengar indah.
Tapi terkadang kicauan burung juga bisa menyakitkan hati
Suara kicauan burung itu terdengar sangat nakal
Suara kicauan burung itu terdengar sangat menggoda

Suara itu-- Bukan suara burung yang sebenarnya
Tapi suara-suaramu
Suaramu yang terdengar sangat tinggi
Tidak sesuai dengan notasi lagu

Untuk apa aku mendengar kicauanmu
Untuk apa aku menimpali setiap kicauanmu dengan kicauanku
Kicauan yang justru sedang menghujatku
Kicauan yang justru sedang menyakitiku

Aku tak perlu mendengar kicauanmu
Aku tak perlu membalasnya dengan kicauanku
Aku cukup tersenyum
Aku cukup melakukan sebuah tindakan kecil

Cukup dengan sebuah tindakan
Tindakan yang mampu mematahkan semua kicauan kejimu itu
Dan kau tau itu apa
Aku cukup berbuat kebaikan

Memang butuh waktu
Memang butuh proses
Memang sangat lama
Tapi aku sabar

Sabtu, 21 September 2013

Kenapa Bukan Aku?

Kamu terlihat makin akrab dengan dia. Dia sosok perempuan yang baru kamu kenal, sejak tahun ajaran baru. Kedekatan kalian seolah makin terjalin semenjak pertemuan pertama itu. Diantara kalian seolah ada saja yang selalu dibicarakan berdua. Kalian semakin terlihat kompak. Ahh andai saja yang ada disisimu itu aku.

Kamu hanya menatap mata dia saja, berbicara berdua tanpa memperdulikan yang lain. Kamu seolah terfokus kepada dia. Kamu bahkan tak sadar, bahwa ada aku yang sedang menonton drama romantis itu dengan perasaan sakit hati. Aku bagaikan penonton, yang tak punya kekuasaan untuk berbicara "cut" layaknya sutradara untuk menghentikan adegan romantis itu.

Andai saja aku yang sedang menjalani adegan romantis itu. Kenapa harus orang baru itu yang mengisi hari-harimu? kenapa aku orang lama yang ada didekatmu, seolah tersingkirkan oleh kehadiran dia? Aku juga ingin merasakan kedekatan itu, tertawa karena celotehanmu, dan tersipu malu karena tatapan matamu.

Kamu dan dia memang sekedar berteman. Aku masih ada peluang untuk mendekatimu, tapi aku tak berani merusak rencana Tuhan yang sedang menyatukan dua anak manusia itu menjadi satu. Mungkin aku akan membiarka rencana Tuhan yang indah itu tetap terjadi. Tapi jujur, tak akan semudah itu.

Mungkin selama ini kamu menganggapku hanya sahabat.Karena dengan mudahnya kamu mulai curhat kepadaku tentang isi hatimu, tentang perasaanmu kepada dia. Kamu melontarkan pertanyaan tentang pendapatku soal perempuan yang kamu taksir itu. Aku hanya berusaha tersenyum didepanmu, menjawab setiap pertanyaan itu dengan seperlunya. Apa kamu tak sadar? dibalik itu semuan terselip rasa sakit? Kamu menceritakan perasaanmu tentang perempuan itu didepan aku! Sahabatmu yang diam-diam mencintaimu. Seorang sahabat yang baik, mungkin akan mendukungmu untuk menjalin kasih dengan dia. Tapi apa aku mampu melakukan itu? dan mengorbankan perasaanku sendiri? ahhh aku tak setegar batu, aku rapuh! maafkan aku yang mengingkari janji persahabatan kita, aku malah jatuh hati padamu. Dan kini kamu mulai menyadarkanku, bahwa terkadang semua kedekekatan itu tak harus berakhir dengan hubungan berpacaran. Adakalanya kita tetap begini tetap menjadi sahabat.

Sabtu, 14 September 2013

Aku Pengagum Rahasiamu

Aku telah jatuh cinta diam-diam kepadamu. Aku selalu mengamati setiap gerak gerikmu. Apapun yang kamu lakukan, selalu menjadi objek menarik untuk aku pandangi. Mata ini seolah selalu tertuju kepadamu. Dimanapun kamu, seberapa jauhpun kamu, seolah selalu terlihat oleh mata ini. Keberadaanmu seolah mempunyai kontak batin dengan hati ini. Aku selalu menengok, mencari keberadaanmu.

Apa kamu sadar ? Bahwa disetiap aktivitasmu, ada mata yang selau menatapmu penuh harap. Setiap senyumanmu, mampu mengobarkan semangatku untuk selalu giat bersekolah. Ahhh barangkali kamu memang tak sadar, bahwa ada aku pengagum rahasiamu.

Mungkin lebih baik begini saja. Kamu tetap menjadi kamu yang selalu ku kagumi. Dan aku tetap menjadi aku yang menjadi pengagum rahasiamu. Aku takkan berharap lebih, karena aku cukup tahu diri akan posisiku. Aku ini seakan kurcaci, terlihat kecil dibanding perempuan disekelilingmu, yang juga menaruh hati padamu. Dan kamu takkan mungkin memilih aku, sang kurcaci.

Keberadaanku takkan mungkin kamu sadari. Aku terlalu kecil dibanding mereka. Aku tak semenarik bunga-bunga itu. Aku ini tak berwarna. Kamu pasti lebih memilih yang menarik, dan yang berwarna. Nyaliku seolah ciut sebelum berperang menggapaimu.  Aku lebih baik tetap berdiri disini, memandangimu ditempat yang tak kamu ketahui.

Bila ada yang bertanya, "sampai kapan meencintai dia secara diam-diam?" aku akan menjawab dengan pasti, aku akan berhenti mencintaimu diam-diam ketika aku sudah tak sanggup lagi menunggumu.Ya memang, jatuh cinta itu indah, tapi akan terasa menyakitkan ketika kamu takpernah tau.

Senin, 09 September 2013

Galau di sosmed

Lagi galau gak? atau pernah ngerasain galau kan? Pasti pengen ngeshare ke semua orang tentang isi hati kita. Yaa bisa lewat curhat sama sobat deket atau ngeshare lewat sosial media. Duhh.. aku pernah tuh dulu gitu, kena demam gegana (gelisah-galau-merana) ngeshare di semua akun sosial media, iya sih awalnya ngerasa plong karena udah berhasil ngeluarin unek-unek yang dirasa. Tapi inget, gak semua orang ngerespon dengan hal positif, mungkin orang-orang terdekat bakalan merhatiin kamu, tapi orang yang jauh dari kamu pasti ngejudge kamu sebagai "ratu/raja galau". Gak mau kan di cap kayak gitu?

Iya sih itu emang akun sosial media kamu. Apapun boleh kamu share. Tapi jangan setiap detik kamu perbaharui status kamu dengan hal-hal galau. Siapa tahu diluar sana ada orang yang risih dengan beranda yang dipenuhi sama status kamu yang lagi galau. Gak semua yang ada dipikiran kamu bisa dishare di sosial media. Tetep harus ada pembatas antara hal pribadi dengan hal umum. Lagian dengan kamu share isi hati kamu yang galau, bisa bikin si doi-si mantan ngerasa kalau kamu itu gak bisa hidup tanpa dia. Meski baru putus atau apa gituu, kamu harus tetep semangat! Hidup masih panjang, dan yakin deh masa depan kamu bakalan cerah.

Ada banyak cara biar kamu gak ngegalau di sosial media. Kamu bisa share cerita kamu di blog, kayak aku gini. Blog itu bisa kamu pake bercerita sepanjang mungkin, gak mesti takut diprotes sama orang lain karena menuhin beranda gara-gara status galau kamu di sosmed. Atau nulis cerita kamu di notes yang ada di aplikasi android, tapi inget jangan lupa pake password. hehee

Jadi inget yaaa, gak mesti galau di sosmed lagi, ada cara lain yang bisa dilakuin. Buat yang lagi galau, semoga cepet sembuh yaa. hehee Keep smile #langsungjogedalacaesar#wkwk

Sabtu, 17 Agustus 2013

Bangku Cadangan--

Aku tidak melupakan kamu, tapi belajar untuk tak mengingatmu lagi dan lagi. Karena sampai kapanpun aku takkan pernah lupa tentang "kita" kecuali kamu melumpuhkan otakku. Memang butuh waktu untuk beradaptasi dengan dunia baru, dunia dimana tak ada lagi tentang "kita". Tapi semuanya telah berhasil aku lewati, mungkin aku lulus dengan nilai memuaskan -hahaa-

Aku telah berhasil melewati masa-masa suram itu. Berjalan setapak demi setapak demi satu tujuan yakni terlepas dari belenggu cinta yang dulu. Aku senang telah mengenalmu, tapi maaf aku harus membuang cinta ini. Aku tak pernah bermaksud memusuhimu, tapi aku hanya menghindar dari tatapan matamu yang mampu menghipnotisku.

Lalu kenapa disaat aku merasa sudah terbebas dari cinta itu, kamu harus datang kembali. Ya sederhana memang, kamu hanya menanyakan kabarku. Untuk apa kamu menanyakan kabarku? Yang jelas cukup menyakitkan ketika perpisahan itu, dan sekarang hidup jauh darimu aku baik-baik saja :) Pembicaraan kita semakin jauh-semakin tak karuan-membicarakan yang tak perlu dibicarakan, menanyakan yang tak perlu dipertanyakan, menjawab yang tak ada jawabannyaa.

Aku terkesan seperti seorang pemain sepak bola, yang sekedar duduk dibangku cadangan. Aku hanya akan dipanggil ketika dibutuhkan. Mengganti pemain lama dan masuk ke arena permainan.

Aku memang duduk dibangku cadangan! hanya menjadi primadona disaat kamu butuh teman bicara, lalu dicampakkan begitu saja ketika kamu merasa sudah cukup untuk bermain-main. Terimakasih! Aku sudah sadar di awal permainan ini, aku berusaha mengambil alih permanainan dan mengakhiri permainan ini. Silahkan cari pemain lain untuk bergabung dalam permainanmu itu :))

Perempuan hanya dituntut untuk lebih peka, agar tak merasa kalau dirinya sedang diberi harapan palsu. Sebenarnya tak ada laki-laki PHP jika kita tak terlau banyak berkhayal dan menaruh banyak harapan muluk.